Skip to content
  • [email protected]
  • 0274 898444 ext. 2122
  • Study with us
    • At a Glance
    • Facilities
    • Global Outreach
    • List of Courses
    • PMB
    • Scholarships
    • Inspiring Alumni
  • Our research
    • Global Development
    • Global Governance, Security, and Geostrategy
    • Global Politics of Social Change, Innovation, and Technology
    • Political Islam
    • Theoretical Approaches on International Relations
  • Current students
    • Course Structure
    • Mobility
    • Graduate Learning Outcomes (GLO)
    • Undergraduate Thesis
    • Academic Services
    • MBKM Guideline
    • News and Events
    • Hikmah
    • Rekrutmen Tutor Kelas
      • Tutor Recruitment
    • FAQs
  • Who we are
    • Our Vision & Mission
    • Our People
  • Center of Excellence
    • International Program
    • Laboratory of International Relations
    • Institute for Global and Strategic Studies (IGSS)
  • Study with us
    • At a Glance
    • Facilities
    • Global Outreach
    • List of Courses
    • PMB
    • Scholarships
    • Inspiring Alumni
  • Our research
    • Global Development
    • Global Governance, Security, and Geostrategy
    • Global Politics of Social Change, Innovation, and Technology
    • Political Islam
    • Theoretical Approaches on International Relations
  • Current students
    • Course Structure
    • Mobility
    • Graduate Learning Outcomes (GLO)
    • Undergraduate Thesis
    • Academic Services
    • MBKM Guideline
    • News and Events
    • Hikmah
    • Rekrutmen Tutor Kelas
      • Tutor Recruitment
    • FAQs
  • Who we are
    • Our Vision & Mission
    • Our People
  • Center of Excellence
    • International Program
    • Laboratory of International Relations
    • Institute for Global and Strategic Studies (IGSS)
Menu
  • Study with us
    • At a Glance
    • Facilities
    • Global Outreach
    • List of Courses
    • PMB
    • Scholarships
    • Inspiring Alumni
  • Our research
    • Global Development
    • Global Governance, Security, and Geostrategy
    • Global Politics of Social Change, Innovation, and Technology
    • Political Islam
    • Theoretical Approaches on International Relations
  • Current students
    • Course Structure
    • Mobility
    • Graduate Learning Outcomes (GLO)
    • Undergraduate Thesis
    • Academic Services
    • MBKM Guideline
    • News and Events
    • Hikmah
    • Rekrutmen Tutor Kelas
      • Tutor Recruitment
    • FAQs
  • Who we are
    • Our Vision & Mission
    • Our People
  • Center of Excellence
    • International Program
    • Laboratory of International Relations
    • Institute for Global and Strategic Studies (IGSS)
Student Admission

Agar Perpisahan Menjadi Awal yang Baru

  • September 21, 2025
  • by admin
A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

Agar Perpisahan Menjadi Awal yang Baru

Ditulis oleh Rizki Dian Nursita

Apa yang menjadikan Ramadhan istimewa apabila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain?
Pembahasan tentang keutamaan Ramadhan umumnya memang banyak kita dapati disampaikan menjelang atau di awal Bulan Ramadhan. Namun demikian, kiranya materi ini dapat menjadi pengingat bagi kita, agar kita tidak mengabaikan hari-hari terakhir Bulan Ramadhan yang semakin dekat ke penghujungnya. Esensi Ramadhan tidak terletak pada euforia pada awal bulannnya, melainkan melihat setiap harinya pada Bulan sebagai kesempatan untuk menyempurnakan amal dan menjadi sebaik-baik hamba.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Talhah bin Ubaidillah, Talhah menceritakan bahwa:

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالَ: إِنَّهُ كَانَ رَجُلَانِ مِنْ بَلِيٍّ أَتَيَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَكَانَ إِحْدَاهُمَا أَشَدَّ اجْتِهَادًا مِنْ صَاحِبِهِ، فَاسْتُشْهِدَ الْمُجْتَهِدُ مِنْهُمَا، وَمَكَثَ الْآخَرُ بَعْدَهُ سَنَةً، ثُمَّ تُوُفِّيَ.

قَالَ طَلْحَةُ: فَرَأَيْتُ فِي مَا يَرَى النَّائِمُ كَأَنِّي عِنْدَ بَابِ الْجَنَّةِ، فَإِذَا أَنَا بِهِمَا، فَخَرَجَ خَارِجٌ مِنَ الْجَنَّةِ، فَأَذِنَ لِلَّذِي تُوُفِّيَ الْآخِرَ مِنْهُمَا، ثُمَّ خَرَجَ فَأَذِنَ لِلَّذِي اسْتُشْهِدَ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَيَّ، فَقَالَ: ارْجِعْ، فَإِنَّهُ لَمْ يَأْنِ لَكَ بَعْدُ.

فَأَصْبَحَ طَلْحَةُ يُحَدِّثُ بِذَلِكَ النَّاسَ، فَعَجِبُوا لِذَلِكَ، فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: “مِنْ أَيِّ ذَلِكَ تَعْجَبُونَ؟” فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا كَانَ أَشَدَّ اجْتِهَادًا، ثُمَّ اسْتُشْهِدَ، وَدَخَلَ هَذَا الْجَنَّةَ قَبْلَهُ!

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَلَيْسَ قَدْ مَكَثَ هَذَا بَعْدَهُ سَنَةً؟” قَالُوا: بَلَى، قَالَ: “وَأَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَصَامَهُ، وَصَلَّى كَذَا وَكَذَا مِنْ سَجْدَةٍ فِي السَّنَةِ؟” قَالُوا: بَلَى، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “فَمَا بَيْنَهُمَا أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ”

“Aku melihat dalam mimpi bahwa ada dua orang lelaki dari suku Bali yang datang kepada Rasulullah ﷺ lalu masuk Islam bersamaan. Salah satu dari mereka lebih giat dalam beribadah dibanding yang lain. Orang yang lebih giat ini akhirnya gugur sebagai syahid dalam peperangan, sedangkan yang satunya meninggal setahun kemudian (dalam keadaan biasa).”

Talhah berkata: “Aku bermimpi melihat mereka berdua di depan pintu surga. Lalu ada seseorang keluar dari surga dan mengizinkan masuk orang yang meninggal terakhir (setahun kemudian), kemudian baru mengizinkan masuk orang yang mati syahid. Setelah itu, ia kembali dan berkata kepadaku, ‘Kembalilah, belum saatnya bagimu (masuk surga).’”

Talhah kemudian menceritakan mimpi ini kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda:

أَلَيْسَ قَدْ صَامَ بَعْدَهُ رَمَضَانَ وَصَلَّى سِتَّةَ آلَافِ رَكْعَةٍ وَكَذَا وَكَذَا صَلاةً؟

“Bukankah ia telah mendapatkan tambahan satu bulan Ramadhan dan shalat sekian ribu rakaat?”

Itu selisih satu bulan, lantas bagaimana dengan 3 hari yang tersisa ini? Silakan Anda hitung dan kalikan! Niscaya Anda akan mendapati, bahkan satu hari saja tidaklah menjadi kesia-siaan di mata Allah SWT.

Bagaimana kondisi umat Islam di penghujung Ramadhan ini?

Jika kita gambarkan dalam sebuah kurva, maka kondisi umat sangat beragam. Ada yang semangat ibadahnya menurun di pertengahan Ramadhan, lalu kembali meningkat di sepuluh hari terakhir. Namun, tidak sedikit pula yang justru semangatnya tinggi di awal Ramadhan, kemudian perlahan menurun hingga mendekati akhir. Bahkan, yang paling banyak kita temui adalah mereka yang di awal Ramadhan penuh antusias, tetapi di penghujungnya justru melemah dan kehilangan ruh ibadah.

Yang lebih memprihatinkan, ketika Ramadhan hampir berlalu, sebagian orang tidak merasakan kesedihan sedikit pun. Tidak ada rasa kehilangan, tidak ada penyesalan, tidak ada kegelisahan karena bulan penuh ampunan ini akan pergi. Yang ada justru rasa bahagia menyambut lebaran, THR, libur panjang, dan berbagai kesenangan duniawi. Seolah-olah Ramadhan hanyalah jeda sementara, bukan madrasah ruhani yang seharusnya membekas dalam jiwa.

“Lantas, apakah sebabnya?”

Wahn atau bahasa kerennya “materialisme” menjadi salah satu sebab hilangnya kenikmatan Ramadhan pada umat Islam. Ramadhan tidak lagi dirasakan sebagai bulan ibadah, melainkan sekadar rutinitas tahunan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul halawatul iman. Sehingga ibadah terasa berat, kering, dan hambar. Hati yang dipenuhi kecintaan kepada dunia akan sulit merasakan kelezatan taqarrub kepada Allah. Fokusnya bukan lagi pada ampunan dan rahmat Allah, tetapi pada kesenangan yang akan datang setelah Ramadhan berlalu.

Menariknya, materialisme tidak hanya menjangkit diri kita secara personal. Ia juga lahir dari sistem dan berkembang menjadi kebiasaan yang lumrah di tengah-tengah masyarakat. Menjelang akhir Ramadhan, sebagian orang justru sibuk memikirkan apa yang akan dipamerkan saat lebaran. Di akhir Ramadhan, orang-orang tidak sibuk untuk mempersiapkan sebaik-baik perpisahan, melainkan sibuk mengantri di mall untuk memenuhi gaya hidup dan hasrat untuk unjuk flexing. sudah semestinya bagi kita untuk bertanya dan berefleksi kepada diri sendiri. Apakah Ramadhan benar-benar telah mengubah hati kita, ataukah ia hanya berlalu tanpa makna? Apakah kita termasuk orang yang bersedih karena kepergian Ramadhan, atau justru lega karena ia telah selesai?

Ironisnya, bahkan materialisme menjadikan pihak-pihak tertentu mencari keuntungan dengan menjadi perusak Ramadhan. Kita dapati di media sosial tengah ramai berita mengenai salah satu brand minuman keras, memanfaatkan momentun mudik di akhir Ramadhan untuk membagikan minuman keras di fasilitas umum secara gratis kepada para pemudik yang sebagian besar merupakan Muslim yang sedang berpuasa. Allahul’musta’an.

Lantas, apakah yang seharusnya kita lakukan agar menjadikan akhir Ramadhan kita lebih bermakna?

Kiranya hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah tentang bagaimana Nabi menghabiskan 10 malam terakhir ini dapat menjadi panduan bagi kita untuk menutup Ramadhan kita.

١٧٦٧ – حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي الشَّوَارِبِ، وَأَبُو إِسْحَاقَ الْهَرَوِيُّ إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاتِمٍ قَالَا: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ قَالَ: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ، عَنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، « يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ»

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdul Malik bin Abi Asy-Syawārib dan Abu Ishaq Al-Harawi, Ibrahim bin ‘Abdullah bin Hatim, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid bin Ziyad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Ubaidillah, dari Ibrahim An-Nakha‘i, dari Al-Aswad, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:

“Adalah Nabi ﷺ bersungguh-sungguh (dalam beribadah)* pada sepuluh hari terakhir (Ramadhan) dengan kesungguhan yang tidak beliau lakukan pada hari-hari selainnya.”

Dalam riwayat lain, Rasulullah mengencangkan ikat pinggang (menahan syahwat).

Perbanyaklah muhasabah diri dengan penuh rasa harap, bahwa ikhtiyar di hari-hari terakhir ini, menjadi wasilah agar Allah masih memperkenankan kita bertemu dengan Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Jadi penuh rasa harap atau ihtisab itu hendaknya bukan hanya menantikan Ramadhan saat sudah dekat saja, namun juga saat hendak berpisah. Layaknya seorang yang hendak berpisah sementara dengan orang yang paling dikasihi, menghabiskan waktu bersama sambil berandai kapan akan berjumpa kembali.

Bahkan, para sahabat dulu berharap, andai tiap bulan itu menjadi Bulan Ramadhan. Dalam atsar yang diriwayatkan oleh ath Thabrani dan al Baihaqi para salafus salih selalu berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan bahkan dari 6 bulan sebelumnya.

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, sampaikanlah aku kepada Ramadhan, dan sampaikanlah Ramadhan padaku, dan terimalah amalan-amalanku”

Beramal shalih tentu saja tidak hanya berkaitan dengan ibadah mahdhah saja, namun beramal dengan amal shalilh apapun sesuai dengan kesanggupannya. Luar biasanya, syariat Islam tidak memaksa seorang hamba di luar batas kemampuannya, bahkan memberikan jalan keluar dan solusi berupa rukhsah. Contohnya, bagi mereka yang lanjut usia, ibu hamil, dan ibu menyusui, Allah memberikan keringanan yang tetap menjaga nilai ibadah dan ketaatan.

Bahkan, bagi mereka dengan profesi tertentu berkaitan dengan kemasalahatan dan nyawa orang banyak, seperti dokter yang harus menyelamatkan nyawa, tenaga medis yang berjaga di ruang gawat darurat, atau siapa pun yang berada di garis depan pelayanan umat. Semua itu tidak menghalangi seseorang untuk meraih pahala Ramadhan. Sebab, nilai ibadah tidak hanya diukur dari banyaknya amalan yang tampak, tetapi dari keikhlasan, niat, dan kesungguhan dalam menjalankan peran yang Allah amanahkan.

Maka, di hari-hari terakhir Ramadhan ini, jangan ukur diri dengan amal orang lain. Ukurlah diri dengan kesungguhan hati, kejujuran niat, dan usaha terbaik yang mampu kita lakukan. Sebab, Allah Maha Mengetahui keterbatasan hamba-Nya, dan Allah pula yang Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya.

Disampaikan pada Sharing Keislaman Radio Unisia, tanggal 28 Maret 2025

Leave a Reply

Recent Posts

UII dan Kemlu Perkuat Diplomasi Indonesia-Pakistan Lewat Policy Lab

Read More »

Universitas Perkuat Diplomasi Publik melalui Kemitraan Global

Read More »

Kalender Akademik FISB UII 2025/2026

Read More »

Kemerdekaan Nasional dan Kemerdekaan Diri

Read More »

Inspirasi Kepemimpinan Perempuan yang Inklusif dari Wali Kota Banda Aceh

Read More »

Department of International Relations
Faculty of Socio Cultural Sciences

Soekiman Wirjosandjojo Building, Kampus Terpadu UII, Yogyakarta 55584

Mail-bulk Whatsapp
Information For
  • Facility
  • Scholarship
  • Frequently Asked Questions
  • Alumni
  • Campus Community
Join Us On
  • Instagram
  • Youtube
  • Facebook
  • X
  • LinkedIn
Search
© Copyright 2026 - Department of International Relations | Design by: CERISE
Disclaimer
Cookies Preferences