UII dan Hanshin University Perkuat 10 tahun Kolaborasi Global
Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menerima kunjungan akademisi Hanshin University, Korea Selatan, dalam agenda Partnership Meeting yang diinisiasi oleh Program Studi Hubungan Internasional (PSHI) UII. Pertemuan ini diselenggarakan pada Rabu, 11 Februari 2026 dan difasilitasi oleh Direktorat Kemitraan/Kantor Urusan Internasional UII, dengan agenda utama penandatanganan Nota Kesepahaman serta pembahasan rencana kolaborasi di masa mendatang. Penandatangan Nota Kesepahaman yang dilakukan oleh Rektor Universitas Islam Indonesia, Prof. Fathul Wahid, menjadi penanda perpanjangan 10 tahun kolaborasi antara UII dan Hanshin juga sebagai bentuk komitmen bersama dalam memperkuat hubungan kelembagaan kedua universitas. Dalam sambutannya, Rektor UII menegaskan bahwa kemitraan dengan institusi pendidikan tinggi di Korea Selatan selama ini menunjukkan tren yang sangat positif dan strategis. UII melihat peluang besar untuk memperluas relasi dengan Hanshin University selama kurang lebih satu dekade bersama fakultas dan departemen di UII.

Pertemuan ini menghasilkan sejumlah poin penting terkait arah kolaborasi ke depan. Kolaborasi dapat dieksplorasi dalam bentuk interfaith dialogue, staff exchange, kelas daring bersama, mobilitas mahasiswa, hingga kemungkinan pengembangan program double degree. Selain itu, UII juga melihat potensi penyelenggaraan program jangka pendek atau short program dengan mengundang universitas-universitas mitra Hanshin University dan UII di Asia sebagai bagian dari jejaring kolaboratif yang lebih luas. Sementara itu, Hanshin University menyampaikan komitmennya untuk memperkuat rekrutmen mahasiswa internasional, khususnya dari kawasan Asia Tenggara, serta mendorong pembelajaran budaya Korea bagi mahasiswa internasional. Hanshin juga menekankan pentingnya membangun jejaring kolaborasi yang menghubungkan spiritualitas antar negara di Asia melalui kerja sama lintas universitas dan masyarakat sipil (universities to universities and civil societies to civil societies). Kedua institusi sepakat bahwa program kolaborasi dapat mencakup bidang budaya, bahasa, politik, dan perdamaian.
Sebagai tindak lanjut dari perpanjangan kerja sama ini, kedua institusi sepakat untuk memulai implementasi program melalui kegiatan Gateway to South Korea yang diselenggarakan oleh PSHI UII dalam format Spring Short Course pada akhir bulan Maret mendatang. Program ini akan menghadirkan kegiatan pertukaran pelajar yang didampingi oleh dua dosen PSHI UII, dengan Hanshin University sebagai salah satu host institution. Selama program berlangsung, mahasiswa akan mengikuti agenda pembelajaran di kelas, cultural showcase yang dilakukan oleh mahasiswa PSHI UII dan Hanshin University. Rangkaian kegiatan akan ditutup dengan field trip ke Seoul sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual, yang memungkinkan mahasiswa memahami secara langsung perkembangan sosial, politik, dan budaya Korea Selatan. Selain dapat dikonversi menjadi program ber-SKS, kegiatan ini juga mewajibkan mahasiswa untuk memiliki luaran kegiatan dalam bentuk esai sehingga memberikan manfaat akademik langsung bagi mahasiswa. Kegiatan ini diharapkan dapat menarik program lain yang berbasis kota (city-based exchange) karena dipandang potensial untuk mendukung pengembangan akademik dan karakter mahasiswa. Dalam semangat tersebut, ditegaskan bahwa “every student is an ambassador”, mahasiswa yang terlibat dalam mobilitas internasional berperan sebagai duta budaya dan perdamaian.

Kedua belah pihak juga membuka peluang kunjungan tim pengelola Program Studi dan pimpinan Universitas secara timbal balik—baik dari Hanshin ke UII maupun sebaliknya—sebagai bagian dari penguatan implementasi kerja sama. Diskusi juga menggarisbawahi pentingnya membangun jaringan intelektual Asia lintas batas (Asian intellectuals beyond borders) melalui platform kolaborasi yang diinisiasi bersama. Program-program tersebut direncanakan akan dipublikasikan secara luas, termasuk melalui media sosial sebagai bagian dari global peace project, serta didukung dengan penyusunan materi promosi dan publikasi media. Kedua universitas sepakat bahwa tantangan dalam kerja sama global—termasuk kendala bahasa—bukanlah hambatan, melainkan peluang untuk memperkuat semangat kolaborasi, sejalan dengan nilai bahwa bahasa mungkin menjadi batas, namun bukan penghalang untuk bertindak. Melalui kemitraan ini, UII dan Hanshin University menegaskan komitmen bersama untuk saling belajar, memperkuat jejaring Asia, serta mempersiapkan institusi pendidikan tinggi menghadapi dinamika perubahan global. Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam membangun pemahaman lintas budaya dan kontribusi nyata bagi perdamaian global.





